Testimoni Internship Di Agrisocio
Nama saya Muhammad Pradipta Natriasukma. Saat ini sedang menempuh studi di Sosial Ekonomi Pertanian ( Agrobisnis ) Universitas Gadjah Mada. Saya mahasiswa semester 4 yang masuk pada tahun 2015. Menurut saya, pengalaman mengenal kondisi kerja dengan ilmu terapan yang berhubungan sangat perlu bagi mahasiswa dalam menjalani ilmunya semasih di perkuliahan. Sembari menunggu motivasi yang datang, kali-kali perlu lah menjemput motivasi itu. Maka motivasi itu akan datang sendiri. Tentu, dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, maka semoga diberkahi segala keputusan yang diambil.
Sejak tanggal 10 Juli hingga 21 Juni 2017 saya memutuskan untuk mengikuti internship program “Expronas” dari IAAS di AgriSocio. Agrisocio ( PT. Global Inovasi hijau ) sendiri merupakan perusahaan rintisan dari Mas Alfi Irfan sejak Ia melakukan riset terhadap kondisi pertanian di ranah petani secara langsung pada tahun 2013. Dia merupakan mahasiswa angakatan 2009 yang telah lulus S1 dari IPB. Dengan ide baiknya, Ia mampu menggerakan petani dalam ranah pemberdayaan dengan inovasi bisnis disertai edukasi tentang pertanian dan pangan bagi pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.
Alhamdulillah..! Ternyata cukup berkesan dalam benak saya, hampir segala aktivitas yang diintruksikan setiap hari baru pertama kali saya lakukan. Mulai dari kerjaan di kantor dalam empat hari yang melakukan survey supplier buah naga, menyiarkan pesan berantai tentang penawaran produk kepada calon pelanggan, menjadi online service, melakukan digital marketing, mendistribusikan pesanan AgriFresh, hingga mencari market dari end-user serta rumah-rumah makan di sekitaran Bogor Barat. Sampai berakhirnya partisipasi program, bahkan enam kali ke rumah produksi dengan lahan tanam di belakang rumah. Aktivitas dari panen kacang hijau, ubi jalar, kacang buncis, kacang panjang, cabai-cabaian yang terkena penyakit patek, mengupas kulit kacang ijo dan edamame, mencabut gulma di lahan ketimun dan edamame, menanam kol dan kangkung serta menyiramnya, memasang mulsa serta melibanginya, memberikan pupuk kandang dan ZA , mengupas berbagai produk-produk pertanian seperti baby corn, hingga melakukan tindakan pasca panen seperti mengupas berbagai produk-produk pertanian ( baby corn ), menyortir cabai, dan wrapping produk AgriFresh. Bahwa kalimat-kalimat barusan merupakan himpunan redaksi yang akan terkenang dalam gambaran pikir saya. Semoga menjadi langkah awal dalam melakukan bisnis bagi saya. Di sinilah saya berusaha memahaminya. Walaupun ekspektasi saya terlalu tinggi, memang diri saya ini perlu belajar banyak dari kepemimpinan Mas Alfi ( CEO Agrisocio ), Mas Arnian ( Manajer Pemasaran), Mang Ugan ( Manajer Produksi ) , Pak Rohlan ( Asisten Manajer Produksi ), serta Bang Owanda Alam Pugung ( guide saya dan teman-teman selama kerja dan kegiatan di luar kerjaan).
Banyak sudut pandang menarik ketika saya menemukan realita di lahan produksi. Saat saya melihat satu petak cabai-cabaian yang terkena penyakit patek ( antraknosa ), saya langsung prihatin dengan kondisi usahatani seorang petani yang melakukannya dengan modal yang minim. “Bisa-bisa mereka jatuh bangun mengembalikan pinjaman uang yang telah digunakan untuk menanam cabai,” dalam benak saya. Nampaknya petani punya tantangan yang besar terhadap penyakit patek, begitu konsklusi saya setelah berdiskusi singkat dengan Mang Ugan. Karenanya patek yang begitu mewabah. Mungkin disertai udara lembab yang selalu menyelimui langit Bogor sehingga penyakit ini mendapat kondisi yang cocok untuk menyebar secara cepat. Saya tidak habis pikir ketika petani dengan modal sedikit tadi mengalami kondisi serupa. Apalagi kalau tidak bergabung ke kelompok tani. Berbeda dengan telah diberdayakannya sejumlah kelompok tani oleh Agrisocio, semoga ini menjamin seorang petani lebih berkembang perihal edukasi dalam usahatani. Saran saya, perlunya kerjasama dengan ahli Hama dan Penyakit Tumbuhan serta Budidaya Tanaman ( Agronomi ) oleh Mas Alfi. Sehingga petani memiliki kemandirian lebih dalam menghadapi tantangan itu. Sekaligus mengajak lebih banyak petani untuk sama-sama mandiri.
Dalam hal yang lebih penting lagi ialah pencarian market. Hal ini sangat menjadi tantangan tersendiri untuk perusahaan social entrerprise, diperlukan seni dalam menjual produk-produk yang kita miliki dengan memanajemen antar produksi dengan permintaan. Secara tidak langung saya juga memahami hal tersebut selepas kegiatan internship.
Semakin terangkatnya nama Agrisocio di Indonesia, semoga muncul Agrisocio serupa di daerah lain. Dengan suasana edukatifnya dalam kegiatan internship, hal tersebut bukan tidak mungkin terjadi bagi peserta magang.
Saya sangat mengapresiasi terhadap inovasi-inovasi yang muncul dari orang-orang baik yang ingin memajukan pertanian dan pangan di Indonesia. Ada secercah harapan dalam menatap bonus demografi dan isu pangan yang menjadi objek utama penduduk bumi di tahun 2048, setelah konflik minyak bumi di Timur Tengah. Yang akan bersanding dengan Air dan Energi.
“Pertanian Indonesia harus jaya, Pertanian Indonesia harus jaya ! ”
Jum’at, 21 Juli 2017
Muhammad Pradipta N
