Selasa, 06 November 2018

Advokasi Masalah Pertanian Desa Taman Agung, Desa KKN ku


Sambung Lidah Petani

Assalamualaikum sahabat muda gadjah mada!

Saya Muhammad Pradipta Natriasukma dan inilah cerita saya.

Dalam agenda akademik UGM, bulan Juni-Juli merupakan periode kedua kuliah kerja nyata (KKN). Setelah berbagai macam tawaran tim, secara singkat saya ceritakan bahwa pada KKN KTM Belitang-lah saya harus mengabdikan diri. Tentu sebuah rezeki dan tantangan. Kebetulan KKN ini merupakan KKN Tematik dari Kementrian Desa, Transmigrasi dan . Dalam KKN ini saya baru mengetahui bahwa terdapat KKN yang diminta oleh pemerintah daerah. Dari hal tersebut maka terdapat panduan khusus ke-tema-an sehingga saya harus melakukan pengabdian sesuai dengan visi pemerintah tersebut.
Singkat cerita setelah masa penerjunan dari kampus hingga ke lokasi desa tempat tinggal, saya merasakan hal yang mirip dari yang saya dapatkan di tanah jawa, yakni orang-orang jawa sekaligus transmigran di Desa Taman Agung. Saya memiliki latar belakang dari fakultas pertanian. Meskipun saya pada jurusan Ekonomi Pertanian dan Agribisnis, mau tidak mau saya harus aware pada masalah pertanian secara umum spesifik daerah. Kenapa spesifik daerah? Karena setiap daerah memiliki karakteristik pertanian yang khusus.
Pada hari-hari awal KKN, menjadi masa-masa melakukan survey di sekitar lokasi desa. Saya menemukan berbagai narasumber terpercaya untuk bercerita masalah tani. Mulai dari ketua gabungan kelompok tani, ketua kelompok tani, penjual alat dan sarana produksi tani, petugas penyuluh lapangan, koordinator penyuluh pertanian se-Kecamatan Semendawai Suku III, hingga beberapa petani langsung. Kebetulan pula, orang tua asuh saya juga merupakan petani yang dekat hubungan dengan pihak ketua kelompok tani dan setiap hari berurusan dengan masalah tani tersebut. Pak Woto, tetangga sebelah rumah, menjadi pemandu saya untuk hidup dalam lingkaran petani tersebut. Diskusi di sana sini saya lakukan. Alhasil, saya temukan komoditas utama di sekitar desa adalah padi, tebu, kelapa sawit, dan karet. Di Desa Taman Agung, dalam area desa sendiri lebih banyak tanaman padi dan karet. Namun, untuk tulisan ini, saya hanya akan berfokus pada padi saja.
Suatu ketika, atau memang hampir hari adalah cuaca panas, saya mengunjungi sawah dan melakukan pengamatan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Saya temukan masalah yang melingkupi petani pada daerahku tinggal adalah masalah irigasi, kondisi tanah, sosial ekonomi petani, dan hama & penyakit tumbuhan. Masalah irigasi utama adalah tidak sampainya debit air pada banyak blok di desa taman agung. Memang, pada blok padi sebelah yang hanya di pisahkan sungai justru persediaan air lebih banyak. Hal ini bukan tanpa sebab. Di daerah tersebut dulunya memang proyek irigasi untuk cetakan sawah yang nyatanya sekarang banyak alih fungsi menjadi tanaman karet. Namun, di blok yang area persawahan tidak banyak air yang sampai dibuktikan dengan ketinggian air yang tidak sampai 3 cm. Menurut teori pada dosen saya di kelas, apabila ketinggian genangan air padi tidak sampai 8-20 cm maka akan menimbulkan dampak pada kesuburan tanah, hama, dan penyakit. Hama dan penyakit yang saya temukan juga beragam seperti sundep, potong leher, blas daun, wereng, penyakit kerdil, dan tikus sawah. Kondisi tanah yang saya dapatkan informasinya adala memiliki pH < 4, terdapat pasir setelah kedalaman 10-25 cm, tanah berwana karat dan berwarna, adaptasi pemupukan berperiode. Masalah irigasi teknis meliputi air tanah yang keruh, kadang berwana merah, aliran air yang macet, penyebab waktu tanam yang beragam, dan kekurangan pasokan air. Masalah sosial ekonomi dapat meliputi harga jual gabah Rp 4000 yang sama dari setiap pabrik, biaya usahatani yang tinggi, dan apabila petani menjadi penggarap justru merugi.
Dari masalah-masalah tersebut, saya berinisiatif untuk menyambungkan lidah petani terhadap pemerintah daerah yang terkait. Saya menjadi resah karena masalah pertanian di desa menyangkut hajat hidup orang banyak, yakni pangan. Setelah mendapat informasi  tersebut, saya mendapat petunjuk supaya masalah ditingkat petani tersebut dapat diajukan pada Badan Penyuluh Pertanian dan Dinas Pengairan. Setibanya di sana, saya telah menyampaikan keluhan-keluhan petani dan diskusi panjang berujung ajakan untuk mengadakan rencana acara bikinan saya dengan nama “Peningkatan Produktivitas Padi Desa Taman Agung.” Acara ini murni inisiatif saya untuk menambah integrasi yang kuat agar meningkatkan produksi padi. Apabila ditanya kenapa produksi, saya akan menjawab bahwa harga jual di tingkat petani sulit di naikkan karena sebagian besar pabrik-pabrik penggilingan padi dimiliki oleh bos besar di Kota Gumawang. Hal ini berimbas pada harga beli yang sama untuk seluruh daerah penempatan pabrik. Hal ini tentu menurunkan posisi tawar petani dalam menjual gabahnya. Harga tidak bisa dimainkan, hanya hasil produksi yang dapat ditingkatkan. Tujuannya yakni, petani memperoleh pendapatan yang lebih tinggi sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka ditengah kenaikan harga-harga pokok (inflasi).
Pelaksanaan yang terselenggara pada tanggal 25 Juli 2018 memiliki banyak cerita. Mulai dari kehadiran petani yang minim, padahal hari-hari sebelumnya sudah banyak yang mengiyakan. Hal ini bertepatan juga ketika mobil yang dipinjam oleh tim KKN kami terperosok ke dalam sawah dengan posisi yang miring. Hal ini menyebabkan pihak-pihak petani yang diundang justru membantu pengangkatan mobil terlebih dahulu daripadai. Benar apa yang dikata bapak Ali selaku PPL setempat bahwa apabila kurang “iming-iming” maka kehadiran petani tidak begitu banyak. Hari itu, acara harus molor sekitar satu (1) jam sehingga saya harus memutar otak. Akhirnya, seperti kiasan “jemput bola” saya mendatangi satu per satu rumah petani sendirian. Beberapa harus menunggu petani tersebut mempersiapkan diri, akhirnya petani datang juga. Meskipun jauh dari prediksi sebelum acara, yakni 6 orang dari target 30 orang.

Mobil jatuhnya miring, dong 

         
Meskipun begitu, acara tersebut berjalan lancar karena konten materi yang tetap informatif dari pihak petani selaku pelaksana dan Badan Penyuluh Pertanian (BPP)-Dinas Pengairan selaku regulator. Saya yang menjadi moderator menjadi penengah sekaligus penyambung lidah petani dan bapak-ibu dinas. Informasi pemecahan dari solusi hama & penyakit tanaman, sosial ekonomi, tanah, dan irigasi secara ide rampung. Setelahnya untuk menyaksikan keadaan yang nyata, kami semua mengunjungi sawah desa untuk meninjau lokasi. Petugas BPP mengeluarkan alat-alat cek PH dan lain sebagainya disamping memberikan penyuluhan teknis terhadap sikap bijak memupuk, menyemprot, dan mengelola hama dan penyakit. Dinas Pengairan lebih fokus untuk menindaklanjuti untuk rencana pembangunan dalam menyalurkan air dari blok-blok pertanian yang dipisahkan oleh sungai yang bersebelahan dengan volume air yang bebeda pula. Hal ini dilakukan supaya air lancar menueluruh. Rencana tersebut muncul atas usulan petani dalam ruang diskusi sebelumnya

Cek padinya, cek hamanya pak
Acara berakhir dengan senyum diantara semua hadirin yang datang. Nampaknya, saat itu semakin dekat komunikasi antara regulator dan pelaksana pertanian. Hari yang baik untuk memulai memperbaiki kehidupan desa. Atas nama pribadi, saya sungguh senang dalam menengahi acara sehari tersebut. Muncul harapan dari benak hati saya supaya sektor pertanian desa dan pelakunya menjadi lebih baik. Saya pun berdoa hingga hari ini untuk kebaikan untuk pertanian Desa Taman Agung. Sekian


Tidak ada komentar:

Posting Komentar