Sambung Lidah Petani
Assalamualaikum
sahabat muda gadjah mada!
Saya Muhammad
Pradipta Natriasukma dan inilah cerita saya.
Dalam agenda
akademik UGM, bulan Juni-Juli merupakan periode kedua kuliah kerja nyata (KKN).
Setelah berbagai macam tawaran tim, secara singkat saya ceritakan bahwa pada
KKN KTM Belitang-lah saya harus mengabdikan diri. Tentu sebuah rezeki dan
tantangan. Kebetulan KKN ini merupakan KKN Tematik dari Kementrian Desa,
Transmigrasi dan . Dalam KKN ini saya baru mengetahui bahwa terdapat KKN yang
diminta oleh pemerintah daerah. Dari hal tersebut maka terdapat panduan khusus
ke-tema-an sehingga saya harus melakukan pengabdian sesuai dengan visi
pemerintah tersebut.
Singkat cerita
setelah masa penerjunan dari kampus hingga ke lokasi desa tempat tinggal, saya
merasakan hal yang mirip dari yang saya dapatkan di tanah jawa, yakni
orang-orang jawa sekaligus transmigran di Desa Taman Agung. Saya memiliki latar
belakang dari fakultas pertanian. Meskipun saya pada jurusan Ekonomi Pertanian
dan Agribisnis, mau tidak mau saya harus aware
pada masalah pertanian secara umum spesifik daerah. Kenapa spesifik daerah?
Karena setiap daerah memiliki karakteristik pertanian yang khusus.
Pada hari-hari
awal KKN, menjadi masa-masa melakukan survey di sekitar lokasi desa. Saya
menemukan berbagai narasumber terpercaya untuk bercerita masalah tani. Mulai
dari ketua gabungan kelompok tani, ketua kelompok tani, penjual alat dan sarana
produksi tani, petugas penyuluh lapangan, koordinator penyuluh pertanian
se-Kecamatan Semendawai Suku III, hingga beberapa petani langsung. Kebetulan
pula, orang tua asuh saya juga merupakan petani yang dekat hubungan dengan
pihak ketua kelompok tani dan setiap hari berurusan dengan masalah tani
tersebut. Pak Woto, tetangga sebelah rumah, menjadi pemandu saya untuk hidup
dalam lingkaran petani tersebut. Diskusi di sana sini saya lakukan. Alhasil,
saya temukan komoditas utama di sekitar desa adalah padi, tebu, kelapa sawit,
dan karet. Di Desa Taman Agung, dalam area desa sendiri lebih banyak tanaman
padi dan karet. Namun, untuk tulisan ini, saya hanya akan berfokus pada padi
saja.
Suatu ketika,
atau memang hampir hari adalah cuaca panas, saya mengunjungi sawah dan
melakukan pengamatan yang sebenarnya biasa-biasa saja. Saya temukan masalah yang
melingkupi petani pada daerahku tinggal adalah masalah irigasi, kondisi tanah,
sosial ekonomi petani, dan hama & penyakit tumbuhan. Masalah irigasi utama
adalah tidak sampainya debit air pada banyak blok di desa taman agung. Memang,
pada blok padi sebelah yang hanya di pisahkan sungai justru persediaan air
lebih banyak. Hal ini bukan tanpa sebab. Di daerah tersebut dulunya memang
proyek irigasi untuk cetakan sawah yang nyatanya sekarang banyak alih fungsi
menjadi tanaman karet. Namun, di blok yang area persawahan tidak banyak air
yang sampai dibuktikan dengan ketinggian air yang tidak sampai 3 cm. Menurut
teori pada dosen saya di kelas, apabila ketinggian genangan air padi tidak
sampai 8-20 cm maka akan menimbulkan dampak pada kesuburan tanah, hama, dan
penyakit. Hama dan penyakit yang saya temukan juga beragam seperti sundep,
potong leher, blas daun, wereng, penyakit kerdil, dan tikus sawah. Kondisi
tanah yang saya dapatkan informasinya adala memiliki pH < 4, terdapat pasir
setelah kedalaman 10-25 cm, tanah berwana karat dan berwarna, adaptasi
pemupukan berperiode. Masalah irigasi teknis meliputi air tanah yang keruh,
kadang berwana merah, aliran air yang macet, penyebab waktu tanam yang beragam,
dan kekurangan pasokan air. Masalah sosial ekonomi dapat meliputi harga jual
gabah Rp 4000 yang sama dari setiap pabrik, biaya usahatani yang tinggi, dan
apabila petani menjadi penggarap justru merugi.
Dari
masalah-masalah tersebut, saya berinisiatif untuk menyambungkan lidah petani
terhadap pemerintah daerah yang terkait. Saya menjadi resah karena masalah
pertanian di desa menyangkut hajat hidup orang banyak, yakni pangan. Setelah
mendapat informasi tersebut, saya
mendapat petunjuk supaya masalah ditingkat petani tersebut dapat diajukan pada
Badan Penyuluh Pertanian dan Dinas Pengairan. Setibanya di sana, saya telah
menyampaikan keluhan-keluhan petani dan diskusi panjang berujung ajakan untuk
mengadakan rencana acara bikinan saya dengan nama “Peningkatan Produktivitas
Padi Desa Taman Agung.” Acara ini murni inisiatif saya untuk menambah integrasi
yang kuat agar meningkatkan produksi padi. Apabila ditanya kenapa produksi,
saya akan menjawab bahwa harga jual di tingkat petani sulit di naikkan karena
sebagian besar pabrik-pabrik penggilingan padi dimiliki oleh bos besar di Kota
Gumawang. Hal ini berimbas pada harga beli yang sama untuk seluruh daerah
penempatan pabrik. Hal ini tentu menurunkan posisi tawar petani dalam menjual
gabahnya. Harga tidak bisa dimainkan, hanya hasil produksi yang dapat
ditingkatkan. Tujuannya yakni, petani memperoleh pendapatan yang lebih tinggi
sehingga meningkatkan kesejahteraan mereka ditengah kenaikan harga-harga pokok
(inflasi).
Pelaksanaan
yang terselenggara pada tanggal 25 Juli 2018 memiliki banyak cerita. Mulai dari
kehadiran petani yang minim, padahal hari-hari sebelumnya sudah banyak yang
mengiyakan. Hal ini bertepatan juga ketika mobil yang dipinjam oleh tim KKN
kami terperosok ke dalam sawah dengan posisi yang miring. Hal ini menyebabkan
pihak-pihak petani yang diundang justru membantu pengangkatan mobil terlebih
dahulu daripadai. Benar apa yang dikata bapak Ali selaku PPL setempat bahwa
apabila kurang “iming-iming” maka kehadiran petani tidak begitu banyak. Hari
itu, acara harus molor sekitar satu (1) jam sehingga saya harus memutar otak.
Akhirnya, seperti kiasan “jemput bola” saya mendatangi satu per satu rumah
petani sendirian. Beberapa harus menunggu petani tersebut mempersiapkan diri,
akhirnya petani datang juga. Meskipun jauh dari prediksi sebelum acara, yakni 6 orang dari target 30 orang.
![]() |
| Mobil jatuhnya miring, dong |
| Cek padinya, cek hamanya pak |
Acara berakhir
dengan senyum diantara semua hadirin yang datang. Nampaknya, saat itu semakin
dekat komunikasi antara regulator dan pelaksana pertanian. Hari yang baik untuk
memulai memperbaiki kehidupan desa. Atas nama pribadi, saya sungguh senang
dalam menengahi acara sehari tersebut. Muncul harapan dari benak hati saya
supaya sektor pertanian desa dan pelakunya menjadi lebih baik. Saya pun berdoa
hingga hari ini untuk kebaikan untuk pertanian Desa Taman Agung. Sekian

Tidak ada komentar:
Posting Komentar